Friday, October 15, 2004

Bola

Informasi tentang bola tertua dan pertama di dunia hanya dapat ditarik dari catatan lama atau gambar grafis bola di beberapa situs kuno. Salah satu referensi tertua ditemukan di makam Beni-Hasan, Mesir, dari tahun 2500 SM. Yang mengeezuutkan, para pemuda pemain bola ditampilkan ... tanpa busana!

Rupanya, bola sudah sejak dulu makan korban. Konon menurut politikus Cicero (106 - 43 SM), permainan bola yang sudah amat populer di Romawi kuno pernah melahirkan kasus unik di pengadilan. Ceritanya, waktu itu anak-anak biasa bermain di jalanan. Tak terduga, bola melambung, lalu menghantam tangan tukang cukur yang tengah mencukur jenggot pelanggannya. Celakanya, ia mencukur dengan sebilah pisau. Tragedi pun jatuh. Pelanggan itu tewas oleh pisau.

Bukti populernya permainan bola ditunjukkan oleh lukisan dinding dari abad I di makam bawah tanah Roma. Pada gambar beberapa pemuda tampak bermain lempar-lemparan bola dengan bertelanjang kaki. Selain itu, konon olahraga serupa sepak bola juga dipakai sebagai bagian latihan militer, menandakan permainan bola di Romawi saat itu cukup beragam.

Demikian merasuknya hobi main bola sampai-sampai tiap pagi ada saja orang Romawi yang main bola, entah di lapangan bola atau pekarangan. Jangan kaget, saat itu hampir setiap kediaman kaum terpandang memiliki lapangan bola!

Namun dari cukup banyaknya lukisan dinding peninggalan masyarakat Romawi bisa disimpulkan, mereka mengenal beberapa jenis bola. Mulai dari yang keras, yang empuk, yang melambung, yang besar, sampai yang kecil. Bahan-bahannya pun beragam, dari bola keras nan berat terbuat dari kaca dan batu seukuran bola boling - seperti peninggalan di Pompeii - sampai jenis-jenis ringan yang berbahan dasar wol, kain, spons, kulit, atau bulu unggas.

Mereka pun punya beberapa cara untuk membuat bola membal. Cara pertama, kandung kencing babi digembungkan lalu dibungkus kuat dengan kulit sapi, babi, atau rusa. Yang kedua, menggulung usus kambing hingga berbentuk bundar, serta membungkusnya dengan kulit rusa. Cara terakhir, membungkus potongan-potongan spons dengan kain. Konon hingga kini masyarakat Turki dan Mesir masih mengenal sepak bola dengan bola spons itu.

Diduga dua bola jenis pertama memiliki daya membal yang baik, tinggal tergantung mutu bahan dan keterampilan pembuatnya. Kalau yang ketiga? Tanda tanya besar.

Tak hanya Romawi, pelbagai kawasan di dunia sebenarnya memiliki bola menurut tradisinya sendiri. Bahkan pada masa yang kurang-lebih sama dengan kejayaan Romawi, popularitas permainan bola tumbuh juga di belahan dunia yang lain. Tepatnya di Cina, meski tak jelas nama dan jenis permainannya.

Dari Cina, seni rakyat membuat bola lalu "diekspor" ke Jepang. Demikianlah misalnya temari alias bola sutera, menjadi seni tradisional Jepang. Dengan diameter 7,5 - 12,5 cm, temari baru diperkenalkan ke Jepang 500 - 600 tahun silam. Bola berbahan potongan-potongan kimono tua itu menurut tradisi adalah buah kasih para ibu atau nenek untuk anak atau cucunya. Kini temari juga punya fungsi sebagai cinderamata.

Memang, ukuran dan bahan asal bola terus berubah dari waktu ke waktu seiring perkembangan jenis dan aturan permainan yang ada. Omong-omong, bagaimana dengan bola khas permainan di daerah kita masing-masing?